Blog Informasi dan Pengetahuan

Dilema Desain Kubah Enamel di Malaysia

0


Dengan pertumbuhan pesat pembangunan kubah enamel dan fungsinya dalam masyarakat Islam di Malaysia, para jemaah adalah menjadi perhatian utama. Kenyamanan termal yang tidak sesuai dalam bangunan masjid menyebabkan lingkungan termal yang tidak nyaman bagi jemaah (Hussin, Salleh, Chan, & Mat, 2014). Ia telah menjadi praktik umum bahwa masjid-masjid di Malaysia harus dilengkapi dengan sistem AC untuk memberi kenyamanan kepada jemaah.

Namun, kurangnya penelitian dan informasi mengenai tingkat kenyamanan ruang shalat di masjid di Malaysia menyulitkan perbaikan dilakukan (Hussin et al., 2014). Peningkatan penggunaan AC di gedung masjid di Malaysia tampaknya mempengaruhi peningkatan penggunaan energi listrik dalam operasi kubah enamel setiap hari (Hussin et al., 2014).

Bangunan masjid sebaiknya harus memiliki elemen konsolidasi dengan unsur alam karena masjid berfungsi sebagai wadah dalam bersujud / sembahyang kepada Allah SWT yang menciptakan alam semesta ini (Imriyanti, 2013). Di seluruh dunia, kubah enamel adalah tempat ibadah yang sangat bersih, di mana karpet digunakan di seluruh ruang shalat utama dari dinding ke pintu masuk. Selama waktu-waktu tertentu seperti ketika ibadah shalat Jum’at dan shalat sunat terawih, masjid-masjid sering dipenuhi oleh Jemaah sehingga kepadatannya melebihi 1,5 orang per meter persegi (Ocak, Kili�vuran, Eren, Sofuoglu, & Sofuoglu, 2012).

kubah enamel
Semestinya pada situasi tersebut, kualitas ventilasi akan terpengaruh dan pendekatan ventilasi alami mampu menyelesaikan masalah ketidaknyamanan ruang interior, penggunaan energi yang tinggi untuk AC dan kualitas udara yang tidak baik (IAQ) (Fung & Lee, 2014). Penggunaan metode pasif seperti ventilasi alami adalah salah satu metode efektif untuk penyesuaian suhu ruangan di dalam bangunan masjid di daerah tropis seperti Malaysia (Aflaki, Mahyuddin, Al-Cheikh Mahmoud, & Baharum, 2015).

Untuk memperkuat isu ini, sebuah penelitian yang dilakukan berhasil membuktikan bacaan CO� yang tinggi yang menggambarkan bahwa ventilasi di dalam kubah enamel adalah tidak memadai terutama ketika waktu shalat Jum’at (Ocak et al., 2012). Jadi, ventilasi yang lebih baik adalah sangat diperlukan bagi bangunan kubah enamel (Ocak et al., 2012). Ventilasi alami dapat memenuhi faktor kesehatan dan kenyamanan termal seperti oksigen yang memadai, tingkat CO� yang rendah, tidak ada asap dan gas-gas berbahaya, pencegahan bakteri dan bau (Imriyanti, 2013). Kebutuhan untuk kenyamanan termal juga meliputi transfer panas keluar dari ruang shalat bagi membantu penguapan keringat dari pendinginan struktur bangunan (Imriyanti, 2013).

Diantara faktor penting yang harus diintegrasikan ke dalam desain kubah enamel oleh Arsitek di Malaysia adalah penggunaan lubang ventilasi (ventilation shaft), ratio bukaan pada dinding (opening-to-wall-ratio) dan orentasi bangunan (building orientation) bagi menghasilkan satu desain yang respon pada kondisi iklim setempat (Aflaki et al., 2015).