Blog Informasi dan Pengetahuan

Merawat Ayah Adalah Tiket Syurga Ku

0

Merawat Ayah Adalah Tiket Syurga Ku. Pada hari Jumat tanggal 26 Mei 2008 tiba-tiba ayah tak sadarkan diri, di rumah, di Pekalongan. Saat itu pula, Hilmy, seorang keponakan ayah, membawanya ke RS Siti Khodijah, Pekalongan. Setelah 5 hari dirawat di RS Siti Khodijah,  kami membawanya ke Jakarta. Pertimbangannya, selain akan mendapatkan perawatan yang optimal, anak-anak beliau juga banyak yang berada di Jakarta.

Di rumah sakit di Jakarta, ayah langsung masuk ke ruang ICU. Setelah beberapa hari, keluarga meminta agar ayah dipindahkan ke kamar. Tapi, jawaban dari pihak rumah sakit, “Belum bisa.” Alasannya, karena ayah masih menggunakan ventilator (alat bantu nafas), dan Ventilator hanya ada di ruang ICU, di kamar tidak tersedia dan tidak memungkinkan alat ini dibawa ke sana. Informasi dari perawat bahwa ada tempat  yang menyewakan ventilator dan dapat ditempatkan di kamar, juga termasuk menyediakan perawat yang mengoperasikan. Jawaban dari pihak rumah sakit: tetap tidak bisa!

Timbul pertanyaan, ketentuan seperti itu apakah mengacu pada standar pelayanan internasional? Selama di ICU, keluarga sulit berinteraksi dengan ayah. Masuk dan bertemu hanya pada jam tertentu. Keluarga duduk dan tidur di ruang tunggu. Tentu saja ayah mengharapkan keluarga, istri dan anak-anaknya selalu berada di sampingnya. Tapi ia tak berdaya karena sudah tidak bisa berkomunikasi secara verbal.

Setelah satu bulan ayah dirawat, dokter menyampaikan bahwa ayah harus cuci darah. Keluarga pun terkejut mendengar berita itu. Sama sekali tak pernah terbayangkan kalau ayah mesti cuci darah. Tim dokter yang terdiri dari 4 orang terbelah 2 (dokter urolog dan internis) mengharuskan, sementara 2 dokter lainnya (neorolog dan penanggung jawab ICU) tidak merekomendasikan. Sikap keluarga, tentu saja, pasrah. Bagi kami, apa yang terbaik untuk ayah, itulah yang mesti dilakukan. Akhirnya sepekan 2 sampai 3 kali ayah cuci darah.